1. 1.       RAM

 

Picture1

 

 

 

 

 

 

 

Ram adalah Random Access Memory. RAM merupakan memori untuk menyimpan proses yang sedang dijalankan oleh komputer . Penyimpanan dalam RAM bersifat volatile artinya hanya disimpan ketika ada arus listrik dan sistem komputernya berjalan.

2.       Processor

 

Processor sering disebut sebagai otak dan pusat pengendali komputer yang didukung oleh kompunen lainnya. Untuk melihat ukuran atau kapasitas processor, bisa masuk ke my computer, klik kanan, dan properties.

 

3.       Mouse

Picture2

 

 

 

 

 

 

 

Mouse adalah bagian dari perangkat keras yang termasuk alat input untuk komputer. Pengaturan mouse dalam computer meliputi Button, Pointers, Pointers Option, Wheel, Hardware. Dalam Button ada pengaturan untuk mengubah fungsi pad sebelah kanan pada mouse menjadi fungsi pad sebelah kiri. Lalu Double Click Speed mengatur kecepatan meng-klik pada mouse, dan Click Lock untuk memudahkan fungsi Drag and Drop agar memindahkan file tidak perlu di drag. Pointers berisi pengaturan untuk mengubah tampilan pointer. Pointer Option meliputi gerakan  dan visibility atau tampilan yang ditampilkan pointer.

4.       VGA

 

 

Video Graphics Array atau VGA adalah merupakan perangkat hardware yang berfungsi untuk mengubah sinyal digital dari komputer menjadi tampilan grafik di layar monitor, dengan kata lain seluruh tampilan/gambar yang muncul di layar monitor adalah hasil dari kerja VGA.

 

5.       Keyboard

 

 

Pengaturan keyboard untuk Windows XP terdiri dari speed dan info hardware keyboard tersebut. Tab Speed ini mengatur tampilan keyboard pada layar monitor. Terdapat dua kotak pada tab ini yaitu Character Repeat dan Cursor Blink Rate. Kotak Character Repeat ini mengatur repeat delay atau waktu munculnya kata-kata yang diketikkan pada tampilan layar monitor, dan repeat rate atau waktu untuk melakukan penghapusan karakter yang diketikkan di keyboard komputer. Kotak Cursor Blink Rate berfungsi untuk mengatur tampilan blink kursor ketika sedang mengetik karakter pada keyboard. Tab Hardware memberikan informasi mengenai spesifikasi keyboard yang digunakan dengan dua command button, yaitu Properties dan Troubleshooting.

 

6.       Sound and Audio Devices

 

Adalah perangkat untuk pengaturan suara melalui speaker atau headset. Pengaturan ini juga dilakukan melalui control panel.

 

7.       Network Connection

 

 

LAN dalah port kabel untuk menghubungkan komputer dengan jaringan. Jaringan yang dikamsud adalah jaringan internet mengggunakan modem ataupun LAN. Jika langsung menggunakan modem, port kabel yang digunakan adalah port RJ 11, sedangkan untuk LAN digunakan port kabel RJ45. Spesifikasi dan pengaturan koneksi komputer juga dilakukan melalui control panel.

 

8.       Motherboard

 

Motherboard atau mainboard biasa disebut papan utama karena berfungsi sebagai pengatur lalu lintas data dalam sistem kerja komputer. Pada motherboard ini terdapat soket tempat pemasangan processor dan juga beberapa soket untuk memasang perangkat lain seperti VGA card, Sound card dan lain-lain.

 

9.       Hard Disk

 

Merupakan tempat penyimpanan data yang bersifat non-volatile dan memiliki kapasitas hingga ukuran ratusan gigabyte. Jika Hard disk terdapat langsung pada PC, disk lainnya adalah Flash drive yang merupakan tempat penyimpanan data yang removable, artinya tempat penyimpanan data eksternal yang berada diluar komputer.

 

 

 10.   Printer

 

Adalah alat untuk mencetak hasil pekerjaan komputer ke dalam lembaran kertas. Pengaturan penggunaan printer juga dilakukan melalui control panel. Gambar diatas adalah gambar control panel untuk pengaturan printer dari windows 7.

PERAN KELUARGA DAN PERILAKU KENAKALAN PADA REMAJA
oleh : Adinda Widanty/I24110062

Perilaku anak dalam keluarga adalah merupakan cerminan bagaimana keluarga tersebut berinteraksi, karena seorang anak mempunyai kemampuan untuk menyerap dan meniru perilaku yang biasa dilakukan oleh keluarga. Anak merupakan aset penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Sebagaimana umumnya manusia yang melewati masa tumbuh kembang, seorang anak juga berkembang melwati tahap-tahap dengan tingkat emosional dengan pembentukan sikap yang berbeda pada setiap fasenya, salah satunya melewati fase remaja.

Masa remaja menurut Garison dan Garison (Hasselt & Hersen 1987) adalah masa ‘in between periode’, yaitu masa dimana individu tidak bisa digolongkan lagi sebagai anak-anak, namun belum matang jika digolongkan menjadi orang dewasa. Menurut Ramsey (1987), rentang usia remaja dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 19-21 tahun (Hasselt & Hersen, 1987). Turner dan Helms (1991) mengelompokkan usia remaja antara 13-19 tahun. World Health Organization (WHO) membagi usia remaja menjadi dua yaitu remaja awal (10-14 tahun) dan remaja akhir (15-20 tahun). Sementara itu, di Indonesia usia remaja adalah dari umur 14 sampai 24 tahun (Sarwono 2002).
Dari segi psikologis, usia remaja merupakan usia rawan, dalam arti stabilitas emosi pada remaja masih tergolong labil. Masa remaja ini dikatakan labil dikarenakan pada masa ini remaja masih mudah terpengaruh lingkungan disekitarnya. Selain itu, pada masa pencarian jati diri ini remaja cenderung lemah dalam menghadapi masalah yang timbul dalam kehidupannya. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan yang kondusif dan harmonis akan terbantu kematangan emosinya sehingga adanya ketepatan emosi dalam diri remaja yang meliputi cinta kasih, simpati, respek, serta remaja akan mampu mengendalikan emosinya seperti tidak mudah tersinggung, tidak mudah marah, mampu menghadapi kegagalan, dan lain-lain. Sebaliknya, remaja yang tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif akan mengalami akibat negatif berupa tingkah laku agresif maupun regresif (lari dari kenyataan).

Oleh karena itu, banyak sekali fenomena masalah remaja yang terjadi. Contoh perilaku remaja akibat negatif berupa perilaku regresif adalah banyaknya peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh remaja. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, pada 2005 tercatat 50 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahun. Dari kejadian kasus bunuh diri tersebut, ternyata kasus yang paling tinggi terjadi pada rentang usia remaja hingga dewasa muda, yakni 15-24 tahun. Kasus bunuh diri tersebut apabila dikaitkan dengan motifnya, kebanyakan untuk usia remaja adalah dikarenakan dukungan sosial yang kurang didapat oleh remaja yang melakukan bunuh diri, padahal dalam usia remaja mereka membutuhkan pengakuan diri dari lingkungan sekitar, ketidakmampuan beradaptasi yang masif dan berujung pada pem-bully-an juga menjadi salah satu faktor pemicu bunuh diri di kalangan remaja. Selain itu, tidak adanya dukungan keluarga maupun kondisi keluarga yang tidak kondusif pada saat seorang remaja sedang mengalami masalah mampu menurunkan perasaan dimiliki oleh seorang remaja sehingga kemudian muncul perilaku regresif berupa salah satunya bunuh diri.

Selain perilaku regresif yang cenderung terjadi pada remaja dengan kondisi lingkungan pertumbuhan yang tidak kondusif, yang sering terjadi lainnya adalah perilaku agresif yang kemudian mengarah pada perilaku kenakalan remaja. Kenakalan remaja dalam hal ini, yang menjadi penyebab utamanya sehingga terjadinya penyimpangan perilaku yang mengarah pada kenakalan remaja antara lain adanya ketidaknyamanan remaja dalam hal emosi, perasaan rendah diri atau selalu merasa memiliki kekurangan, rendah tingkat penerimaan remaja terhadap kasih sayang dari lingkungannya, adanya sifat tunduk yang berlebihan, serta perilaku agresif yang berlebihan. Kenakalan remaja diduga bisa menjadi indikator kegagalan pada koping seorang remaja terhadap stres yang timbul akibat adanya masalah pada keluarga maupun lingkungan terdekatnya. Padahal, tidak bisa dipungkiri selain bisa menjadi masa yang rawan bagi terbentuknya perilaku negatif, masa remaja juga sebenarnya merupakan masa dimana potensi seseorang bisa berkembang dengan baik karena masa remaja didukung dengan masa yang penuh dengan potensi keingintauan yang tinggi dan berfikir yang kritis.

Karena itu, keluarga memainkan peranan yang sangat besar dalam mengarahkan remaja menjauhi perilaku yang dekat dengan kenakalan yang bisa ditimbulkan seorang remaja. Seperti dalam teori ekologi keluarga bronfenbrenner, dimana anak adalah merupakan inti dari interaksi keseluruhan, dengan lingkungan mikro yang paling dekat yaitu keluarga, peer group, lingkungan mesonya berupa interaksi disekolah, tetangga, dan lain sebagainya. Pada teori tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa yang paling mempengaruhi adalah yang ranah interaksinya sangat berdekatan yaitu diantaranya keluarga.

Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan, perhatian, penerapan disiplin yang salah atau tidak efektif seperti penerapan disiplin yang terlalu mengekang atau otoriter maupun terlalu bebas atau permisif, terlebih lagi kurangnya kasih sayang, adalah merupakan faktor-faktor yang diduga bisa menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Perselisihan dan stres yang dialami keluarga erat pula hubungannya dengan kenakalan remaja.

Beberapa hal yang bisa ditimbulkan keluarga berkaitan dengan pemicu kenakalan remaja misalnya adalah keluarga yang broken home. Masa remaja yang cenderung dengan masa kritis dimana merupakan masa peralihan menuju dewasa, pada masa tersebut merupakan proses perkembangan yang cukup membingungkan bagi seorang remaja. Pencarian identitas dan proses perkembangan baik secara fisik maupun mental terasa amat membingungkan bagi remaja. Karena itu, pada masa tersebut remaja membutuhkan tempat untuk bercerita, untuk dimengerti dan untuk meminta bantuan perihal perubahan yang terjadi pada fase tersebut terutama dari orang terdekatnya seperti orang tua dan keluarga.
Seperti fungsi-fungsi keluarga menurut BKKBN yang salah satunya bahwa keluarga berfungsi sebagai fungsi pengayoman dan memberi rasa aman dan nyaman, masa remaja adalah masa yang amat membutuhkan fungsi keluarga tersebut. Namun, pada saat keluarga berada pada situasi yang tidak kondusif seperti terjadinya perceraian, kebisuan dalam keluarga, perang dingin antar anggota keluarga, maka hal-hal tersebut membawa remaja ke dalam situasi dimana mereka akan merasakan ketidaknyamanan dan realisasi mengenai fungsi keluarga tentu nya akan sulit didapatkan. Remaja akan merasakan keterasingan dalam keluarga. Situasi yang paling parah adalah remaja yang merasa bersalah atas apa yang terjadi di keluarganya sehingga memilih untuk ‘menghilang’ dari keluarga dan mencari perlindungan di luar rumah dengan cara yang salah, seperti bergaul dengan komunitas atau teman yang salah yang kemudian berujung pada terjadinya kenakalan yang dilakukan remaja.

Kenyataan ini menjelaskan bahwa kenakalan remaja dipengaruhi oleh keluarga. Walaupun faktor lingkungan juga punya andil. Faktor keluarga sangatlah penting karena keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan remaja. Harus ada pengengendalian terhadap adanya kenakalan remaja karena apabila berkelanjutan, kenakalan remaja bisa berkembang dan berkelanjutan pada tindakan kriminal sehingga menyebabkan kerusakan dalam segala aspek pada masa mendatang.
Hal ini menjadi PR penting bagi keluarga untuk dapat menciptakan lingkungan yang harmonis bagi tumbuh kembang anak khususnya pada masa remaja. Tidak bisa dipungkiri dan merupakan hal wajar bahwa dalam keluarga tidak akan selamanya harmonis, dan mungkin terjadi masalah-masalah dalam keluarga. Namun, hal yang penting adalah bagaimana seluruh anggota keluarga terutama ayah dan ibu bisa meminimalisir agar konflik yang terjadi dalam keluarga tidak mempengaruhi mental anak dan remaja dalam keluarga tersebut. Selain itu hal yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana cara menjadi rumah sebagai perangkat tempat tinggal atau house tapi bagaimana menjadikan house sebagai home yang merupakan tempat yang paling sesuai dalam menjalankan seluruh fungsi keluarga, tempat paling hangat yang bisa dijadikan tempat ‘pulang’ bagi setiap anggota keluarganya, baik secara fisik maupun psikologis.

Ketika Doa dan Usaha Menjadi Jawaban

Posted by: ADINDA WIDANTY in cita-cita No Comments »

“Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang bisa kamu dustakan?”

 

Jika membicarakan hidup manusia memang tidak ada habisnya, dari mulai perbedaan karakter, perbedaan pola hidup, masalah, cita-cita, passion, keinginan, nafsu, rasa marah, perilaku, pelajaran hidup, pengalaman, rasa ingin tau. Titik? Sebenarnya belum titik, karena masih banyak hal-hal yang terkait dengan manusia, tapi jika saya tidak membubuhkan titik, tulisan ini mungkin tidak akan selesai.

 

Sebagian hal yang mendorong saya menulis tulisan ini pun adalah passion, cita-cita, keinginan, hal-hal penting yang mendukung keberhasilan hidup manusia.

 

Siapa sih yang tidak mempunyai cita-cita? Keinginan? Mimpi? Well, everybody have willingness and they deserve to have a willingness. Mumpung mimpi masih gratis bukan?Dan keinginan saya sejak dulu adalah bersekolah setinggi-tingginya, jadi orang sukses. Kita kerucutkan di sini: Saya berkeinginan untuk kuliah dari sejak SMP. Jadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi, tiap hari menuntut ilmu sambil berpakaian bebas tanpa memakai seragam biru-putih, lulus menggunakan toga, belajar dengan dosen. Wow it’s gonna be great, suatu visualisasi imajinasi yang hebat untuk seorang anak SMP ingusan dengan seragam putih biru, tas gendong, dan muka polos. Saat itu visualisasi saya adalah Institut Pertanian Bogor, IPB. Sebuah institusi pendidikan dengan pengabdian masyarakat terbesar, mahasiswa dan lulusan yang terkenal humble. Dalam visualisasi, saya berteriak di depan gerbangnya “IPB, Someday, i’ll beat you. I’m gonna sit inside your class!”.

 

Sebelum tulisan ini berlanjut, perlu diketahui, Saya bukan berasal dari keluarga berkecukupan dan sempurna. Saat keluarga di definisikan sebagai institusi dengan keluarga inti yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak dan dibagi dengan keluarga inti lengkap dan tidak lengkap, saya termasuk yang keluarga intinya tidak lengkap, bukan sesuatu yang mudah untuk tumbuh dan berkembang di keluarga dengan tidak mengenal sosok seorang ayah yang sudah pergi karena ‘menang’ dari penyakit kankernya (bukan kalah, karena keluarga kami tidak pernah mengenal kata kalah). Iya, tidak mudah kata saya tadi, tapi seorang ibu yang hebat mampu membimbing saya mengatasi semua ketidakmudahan tadi, dan yang perlu digarisbawahi, keadaan apapun tidak berhak membuat seseorang berhenti bermimpi.

 

Keluarga saya mungkin tidak sempurna, tapi saya punya seorang Ibu yang berusaha memfasilitasi mimpi anaknya untuk mewujudkan keinginannya. And yes, she did. Sekolah formal lengkap dari mulai TK, SD, SMP. Berprestasi membanggakan sebagai murid SD, peringkat 1 di setiap caturwulan, mengikuti lomba murid teladan, menjadi murid kesayangan guru, masuk ke SMP negeri yang berkualitas, peringkat kelas, jadi siswa kelas unggulan. I did, and that makes my mom quite proud.

 

Ketika saatnya masuk SMA, kegalauan terjadi. Normalnya galau itu populer untuk anak usia remaja yang sudah mengenal cinta. Lucu sekali kalau ternyata saat itu galau terjadi pada saya yang banyak berteman dengan teman-teman perempuan, ngobrol tentang pelajaran, membahas tentang film kartun. Tapi ternyata saya sudah merasakan galau walau belum mengenal kata cinta, saya galau memilih SMA. Saat ibu saya memilihkan SMAKBo, sekolah luar biasa yang mengarahkan siswanya untuk kemudian bekerja. Saat itulah saya mengenal galau.

 

“Anak SMP ini ingin melanjutkan kuliah mamah, kenapa harus bekerja?”, Mungkin begitulah ratapan saya saat itu. Sampai kemudian saya mengerti, Ibu saya takut tidak bisa lagi memfasilitasi biaya untuk saya kuliah, kalau saya harus bersekolah di SMA Negeri dan tidak bisa melanjutkan kuliah, mau jadi apa nanti? Ibu yang luar biasa, bahkan bisa meramalkan ketatnya persaingan bekerja untuk lulusan SMA Negeri nanti, dan dengan berat hati saya melepaskan bangku SMA Negeri yang sudah di genggaman tangan, padahal belum tentu saya lulus seleksi di SMAKBo. Taking risk, itulah hidup. Selamat tinggal SMA Negeri, selamat tinggal bangku kuliah.

 

SMAKBo. Sekolah 4 tahun luar biasa yang berisi anak-anak jenius. Peringkat saya waktu SMP, kelas unggulan, ah itu sudah biasa di SMAKBo. Rata-rata sekolah ini berisi anak-anak dengan latar belakang seperti itu, bahkan lebih baik lagi. Mungkin ini yang dibilang ridho orang tua, saya lulus seleksi masuk sekolah ini. Mengalahkan 800 anak lainnya yang berminat menjadi siswa-siswi analis kimia di sini.

 

Karena masih terbayang-bayang untuk bersekolah di negeri dan melanjutkan kuliah, saya menjalani 4 tahun di SMAKBo dengan kurang berminat. Saingan yang berat, masalah yang kian banyak (seperti yang orang bilang, dengan bertambahnya usia, masalah dalam hidup akan semakin nyata), akhirnya membuat prestasi saya menurun, tapi seperti saya bilang, saya tidak kalah karena tidak pernah mengenal kata kalah. Walau visualisasi SMP saya tentang kuliah masih terbayang, ya, saya masih ingin kuliah.

 

SMAKBo yang berlandaskan kimia memaksa saya untuk menjadi siswi IPA, padahal saya belum tau apa sebenarnya minat saya, yang saya ingat adalah setiap mengerjakan PR Matematika selagi duduk di bangku sekolah dasar, saya harus berusaha keras memeras otak, saat ujian nasional sekolah dasar, nilai matematika saya adalah yang terburuk dari semua mata pelajaran. Dan saat saya dipaksa harus ‘makan’ sesuatu yang berlandaskan IPA dan Matematika, serta harus menghadapi kenyataan untuk menguburkan harapan untuk kuliah, bisa dibayangkan beratnya masa-masa itu.

 

Demi ibu saya yang sudah memfasilitasi saya untuk tetap sekolah di SMAKBo dengan biaya yang tidak sedikit, akhirnya saya berada di penghujung tahun ke empat. Saya lulus! Bahkan sebelum wisuda berlangsung saya sudah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang sedang berkembang dan terkenal saat itu dengan gaji yang tidak bisa dibilang sedikit.

 

Tau rasanya sakit hati? Saat teman baikmu meninggalkanmu ‘sendirian’ karena dia punya teman baru yang lebih asyik? Atau saat pacarmu meninggalkanmu dengan pacarnya yang lain? Bisa keduanya.  Tapi menurut saya, sakit hati itu saat kamu melihat teman-temanmu mengikuti tes SNMPTN, bersiap-siap untuk kuliah, daftar di universitas, dan kamu hanya bisa menyaksikan. Saya bersyukur saya punya pekerjaan, i really am, tapi visualisasi SMP saya tentang kuliah dan keinginan yang belum terwujud itu yang menjadi trigger saya untuk merasa sakit hati, bukan sakit hati pada mereka yang akhirnya kuliah, bukan juga sakit hati pada nasib. Hanya saja ada iri yang terlintas, bukankah rasa iri itu wajar? Boleh kan? Kabar baiknya, saat itu lah titik balik dalam hidup saya. Saya berfikir, kenapa iri tadi tidak bisa saya manfaatkan untuk nekat? Kenapa saya harus mempertahankan zona nyaman? Kenapa saya tidak berusaha mewujudkan keinginan saya untuk kuliah seperti teman-teman saya yang lain?

 

Kesulitan finansial. Memang itulah salah satu lubang hitam penghambat yang memaksa saya untuk menjaga zona nyaman saya. Tapi kemudian rasa iri tadi mengantarkan keberanian saya untuk menambal lubang hitam yang menghalangi, sedalam apapun lubang tadi. Saya bernegosiasi dengan ibu saya untuk bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja, bukan universitas negeri memang, tapi setidaknya saya sudah berani bergerak sedikit mengambil cangkul untuk mulai menambal lubang dalam hidup saya. Ibu saya selalu ingin yang terbaik untuk saya, saya kira semua ibu seperti itu. Tapi ada hal yang tidak bisa dilawan, kenyataan. Saat ibu saya bilang bahwa beliau sudah tidak sanggup membiayai dalam hal pendidikan, saya harus berlapang dada. Bukan salah siapa-siapa, bahkan bukan salah nasib, bukannya semua detik dalam hidup adalah anugerah? Dan perlu diketahui, kekurangan juga adalah suatu anugerah saat kita menyadarinya.

 

Akhirnya dengan yakin saya bilang, saya akan tetap berusaha kuliah dengan uang saya sendiri, gaji saya sendiri. Ironisnya saat itu uang di tabungan saya tidak banyak, hanya cukup untuk biaya pendaftaran, tapi saya yakin Tuhan maha adil, Tuhan maha berkehendak. Apapun bisa terjadi, mungkin saatnya nanti harus membayar, Tuhan akan menambahkan nominal ke dalam buku tabungan saya. Agak meragukan mungkin, tapi setidaknya saya telah menambah satu langkah lagi untuk maju.

 

Lalu dengan yakin saya membeli form pendaftaran salah satu universitas swasta dan mengikuti psikotest untuk masuk. Saya yakin saya bisa kuliah. Dua minggu berlalu, saat kemudian pengumuman penerimaan keluar dan nama saya tertera, saya  tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Namun, senyum itu lenyap tatkala melihat jumlah pembayaran yang harus dilunasi dalam waktu 1 minggu tanpa cicilan. 5 juta rupiah. Bukan jumlah yang sedikit untuk finansial saya. Birokrasi di universitas swasta memang tidak seperti di universitas negeri, tidak ada keringanan untuk biaya, saya harus melunasi secepatnya tanpa tapi.

 

Tiga hari saya merenung, haruskah langkah saya terhenti di sini? Karena tidak mungkin saya meminta sejumlah uang tadi kepada ibu saya. Akhirnya dengan berat hati saya harus merelakan kesempatan kuliah sambil kerja ini. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah, apalagi mengubah keinginanmu jadi nyata. Tapi membuat perasaan jadi lebih baik? Sudah tentu. Jadi tidak ada salahnya menangis sejenak untuk bangkit kan?

 

Teman-teman seperjuangan sudah memulai aktivitas kuliahnya, sedangkan saya akhirnya meneruskan bekerja sambil menunggu kesempatan. Tapi, serangkaian pengalaman tadi membuat saya tidak bisa duduk di zona nyaman, kenapa harus menunggu kesempatan? Kenapa tidak mencari? Dari teman-teman saya yang sudah memasuki bangku kuliah di universitas negeri, saya mendapatkan info bahwa universitas negeri selalu punya cara memudahkan mahasiswanya yang kesulitan finansial, fasilitas mereka untuk mahasiswa yang kesulitan keuangan sangat besar. Pengetahuan saya mengenai universitas pun bertambah. Jadi, kenapa saya tidak berusaha untuk memasuki bangku kuliah di universitas negeri?

 

Dengan semangat baru saya menegosiasikan dengan ibu saya, saya tetap ingin melanjutkan kuliah. Saya berjanji untuk masuk universitas negeri, mendapatkan beasiswa dan tidak akan membebani ibu saya dalam hal bayar kuliah. Saya berjanji. Namun, tetap ada harga yang harus dibayar yang harus dipertimbangkan, saat saya ingin meneruskan kuliah di universitas negeri, tentu saja saya harus melepaskan pekerjaan saya, dan harapan satu-satunya adalah beasiswa. Selain itu, bukan hal yang mudah untuk memasuki gerbang universitas negeri bagi siswa lulusan SMK yang orientasi lulusannya adalah untuk bekerja, saya harus menyiapkan kemampuan akademik dengan matang, saya harus mengikuti bimbingan belajar tambahan yang berarti ada biaya lagi yang harus dikeluarkan. Tapi demi melihat ambisi yang cukup kuat dalam diri saya, akhirnya ibu saya menyerahkan semua pada saya, semua keputusan ada di tangan saya. Keputusan besar harus saya ambil and i take that. Saya bertekad untuk mengumpulkan uang sebagai modal, saat teman-teman saya bekerja sambil kuliah, saya bekerja sambil mengikuti les persiapan tes masuk PTN, saat teman-teman saya meyisihkan uang gajinya untuk biaya semester di kuliah, saya menyisihkan uang gaji saya untuk membayar les tadi dan menyisihkan untuk bekal membeli formulir SNMPTN dan ujian-ujian mandiri. Entah mengapa ini menjadi saat-saat paling membahagiakan dalam hidup saya, saat berusaha menjalani tantangan demi keputusan yang sudah dibuat dan rasanya masa-masa itu penuh semangat!

 

Enam bulan persiapan berlalu, bersama adik-adik kelas yang juga menyiapkan diri untuk memasuki gerbang perkuliahan, saya mulai mengatur strategi. Saya mengajukan surat resign pada perusahaan tempat saya kerja saat itu, padahal belum tentu saya diterima di universitas. Well, itu lah nikmatnya take a risk. Rekan-rekan kerja dan bahkan supervisor saya yang sangat baik dan sudah seperti kakak dan keluarga mendoakan agar saya mendapat yang terbaik, saat mereka mengiringi kepergian saya dengan doa dan harapan agar saya mendapatkan yang saya inginkan, that’s the one of the greatest time in my life.

 

Saya memutuskan untuk mengambil Universitas Indonesia jurusan Kimia sebagai pilihan. Selain tes SNMPTN, saya mengambil jalur ujian mandiri SIMAK karena harganya terjangkau. Kemana IPB saat saya membuat piliihan? Sayang sekali IPB hampir luput, padahal visualisasi saya ketika SMP adalah Instiitut Pertanian Bogor. Tapi Tuhan masih memberi jalan pada saya, ketika saya menghadapi kegalauan apakah saya harus mengikuti Ujian Mandiri IPB atau hanya bergantung pada hasil SNMPTN dan SIMAK? Pertimbangan harga formulir UTM IPB yang cukup mahal membuat saya berfikir lama, seperti yang saya bilang, Tuhan masih memberi jalan pada saya, tabungan gaji terakhir sebesar 600 ribu akhirnya saya alokasikan untuk UTM IPB. Saya ambil departemen Gizi dan IKK.

 

Selang waktu berlalu, tes PTN saya ikuti dengan harapan tinggi. Tapi Tuhan berkehendak lain, saat saya membuka pengumuman dan ternyata saya tidak diterima, dunia serasa hancur. Tau bagaimana rasanya sakit hati? Lagi. Tapi saya tidak bisa apa-apa, toh saya sudah berusaha. Saya sudah mengambil ratusan langkah untuk menambal lubang hitam demi mewujudkan keinginan saya untuk kuliah. Kalau ternyata Tuhan tidak menghendaki, saya bisa apa? Memang saya salah saat itu, ada aspek yang kurang saya pertimbangkan saat memilih Universitas Indonesia sebagai pilihan utama, sesuatu hal yang kekanak-kanakan dan membuat saya tersenyum ketika mengingatnya saat ini. Seperti pepatah bilang, jangan mengambil keputusan saat terlalu marah, terlalu senang, dan terlalu terburu-buru. Saat itu saya lupa pepatah tadi.  Tapi membuat kesalahan dalam hidup itu wajar bukan? Bukankah itu adalah proses belajar? Dari situlah saya belajar untuk menjadi dewasa saat mengambil keputusan. Memang masih ada kesempatan saya di SIMAK dan UTM, tapi saya harus cerdas dalam antisipasi, saya mulai membuat surat lamaran kerja lagi, saya mulai merangkai CV lagi, saya mulai mencari-cari pekerjaan lagi. Sempat saya menutup diri dari dunia luar, dari teman-teman saya yang bekerja, teman-teman saya yang kuliah, teman-teman saya yang bekerja sambil kuliah, dan semua teman-teman saya yang sudah meraih jalan mereka masing-masing. Sampai kemudian saya menyadari, untuk apa menarik diri karena hampir gagal? Dengan berusaha berarti kita tidak gagal, walaupun kemudian tidak berhasil mendapatkan yang sudah kita usahakan ada hal yang tak ternilai yang sudah kita dapatkan sebenarnya. Proses Pembelajaran.

 

Dari situ saya mulai membuka diri lagi, tak disangka teman-teman saya khawatir dengan ketiadaan kabar dari saya selepas tes SNMPTN, tak sedikit yang kemudian mensupport untuk tetap  berusaha dan semangat mengikuti SIMAK dan UTM. Support dari orang lain memang tak kalah kekuatannya dengan support yang muncul dalam diri. Saya pun mengikuti tes SIMAK dan UTM dengan harapan yang sama besarnya seperti saat saya mengikuti tes PTN, namun saat ini dengan kerelaan yang lebih besar, jika kemudian saya tidak berhasil, itu juga merupakan hadiah untuk saya.

16 Juli 2011. Pengumuman UTM pun datang. Betapa bahagianya saat ternyata nama saya tercantum dengan kata LULUS. Bisa dibayangkan rasanya saat semua usaha yang kita lakukan membuahkan hasil. Impian, harapan, keinginan seakan tersenyum. Institut Pertanian Bogor ternyata memang menjadi jawaban dari semua keinginan saya. Keinginan yang bermula sejak saya masih menjadi siswi SMP berseragam putih-biru. Walau akhirnya saya harus terpautt 2 tahun lebih tua dibandingkan teman-teman seangkatan saya, that’s not really big deal. Dunia memang indah!

 

Usaha saya memang sudah membuahkan hasil, doa, usaha, semangat, support, semua berkolaborasi sempurna pada akhirnya. Ribuan langkah yang telah saya coba tempuh kian terasa maknanya, walaupun belum seluruhnya ‘lubang’ yang saya tambal.

 

Kalau banyak yang mengira paragraf di atas menutup semua cerita yang saya jabarkan, mungkin banyak yang salah, karena justru semuanya berawal dari sini.

 

Institut Pertanian Bogor.

 

Sebuah universitas negeri ternama dengan slogannya ‘searching and serving the best’. Pada akhirnya disinilah saya saat ini, saya menjadi salah satu yang terbaik yang bisa menginjakan kaki di sini, bukan hanya menginjakan, tapi juga menuntut ilmu. Dengan segala usaha yang sudah saya tempuh, Universitas ini seakan menjadi pohon rindang tempat saya akhirnya bersandar dan berisitirahat. Teringat ketika saya harus kecewa karena tidak bisa membayar uang masuk kuliah di universitas swasta yang pernah saya pilih, IPB dengan kebijakannya memberi pilihan untuk menyicil uang masuk bagi mahasiswanya. Tuhan sudah menggariskan semua nasib hambanya, ketika Dia telah menempatkan saya di sini, rezeki pun datang. Saya pada akhirnya bisa menyicil uang masuk di IPB yang jumlahnya ternyata bersahabat.

 

Usaha saya belum selesai, 4 tahun demi gelar sarjana di universitas bukan tidak membutuhkan biaya yang banyak, bahkan untuk universitas negeri dengan biaya terjangkau seperti di IPB, saya masih harus mencari beasiswa demi kelangsungan eksistensi saya di universitas ini. Berbagai macam besiswa saya ikuti, termasuk Beasiswa Bidik Misi dari pemerintah yang membiayai mahasiswanya full baik uang pangkal, biaya hidup, maupun uang semester hingga lulus selama 4 tahun. Sebenarnya beasiswa ini lah tujuan utama saya. Namun, entah apa yang terjadi karena saat pengumuman Bidik Misi nama saya tidak ada di daftar mahasiswa yang diterima untuk mendapatkan beasiswa.  Galau seakan sudah menjadi nama belakang saya. Iya, saya galau lagi, saat saya kemudian akhirnya sudah sampai menjadi mahasiswi di sini, namun saya harus berfikir bagaimana caranya membiayai kuliah saya jika tanpa bantuan beasiswa. Saya pun terus mencari beasiswa lain.

 

Alhamdulillah beasiswa Astaga tembus, Beasiswa yang membiayai uang masuk mahasiswanya. Memang hanya uang masuk, tapi daripada tidak sama sekali? Iya, tetap saja saya harus memutar otak untuk mencari cara bagaimana saya membiayai kuliah saya selanjutnya. Saat kebanyakan mahasiswa tingkat pertama sibuk dengan mengejar prestasi untuk menjadi yang terbaik di tahun pertama (TPB), saya dan mungkin beberapa mahasiswa lainnya masih harus memutar otak memikirkan biaya untuk keberlangsungan kuliah nantinya.

Suatu hari direktur TPB memanggil saya dan berbicara mengenai beasiswa pada saya, beliau bilang saya tidak jadi mendapatkan beasiswa Astaga, sebagai gantinya saya mendapatkan beasiswa dari seorang alumni yang akan membayarkan uang masuk dan ditambah dengan membiayai kebutuhan bulanan saya. Tuhan memang maha adil, Dia maha baik. Bersyukur sekali ternyata saya bisa diberikan yang lebih baik. Di tengah rasa syukur, tetap saja saya masih memikirkan, bagaimana dengan uang pangkal tiap semester nantinya? Akhirnya saya memutuskan untuk berpasrah pada-Nya, saya sudah berkali-kali menemukan keajaiban dari-Nya, saya yakin akan ada jalannya, yang pasti saya harus selalu bersyukur, hanya itu yang ada difikiran saya kemudian.

 

Seminggu selang pertemuan saya dengan bapak direktur TPB, Teman sekelas saya mengirimkan pesan melalui sms, isi pesan tersebut adalah menyuruh saya untuk mengecek website Bidik Misi. Saya bingung, untuk apa? Bukankah saya tidak diterima Bidik Misi? Namun kemudian saya buka juga websitenya. Tak disangka, nama saya ada di daftar susulan penerima beasiswa Bidik Misi tahap 2. Ternyata saya lolos. Alhamdulillah, benar memang Tuhan maha baik. Tuhan selalu tau yang terbaik bagi hambanya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari semua keinginan dan cita-cita saya. Saya, Adinda Widanty, akhirnya menjadi mahasiswi Institut Pertanian Bogor sekaligus penerima beasiswa Bidik Misi, yang artinya seluruh biaya masuk, biaya semester, dan biaya hidup per bulan sudah ditanggung oleh pemerintah.

 

Doa, usaha, dan ridho orang tua memang sebagian hal terbaik yang mendukung kesuksesan seseorang. Sukses itu relatif, banyak yang hidupnya lebih sukses, lebih banyak prestasi. Tapi inilah sukses dalam hidup saya. Sukses dalam definisi saya, yaitu saat saya sukses uuntuk membuat impian, sukses untuk merelakan tertundanya impian, sukses untuk tetap memegang impian, sukses untuk melangkah dari zona nyaman demi meraih impian, sukses untuk bangkit dari kegagalan, sukses untuk terus mencoba, dan akhirnya sukses untuk mendapatkan yang saya impikan.

 

Dalam mengabulkan keinginan hambanya, Tuhan punya 3 jawaban :

  1. Ya
  2. Tidak, karena bukan yang terbaik
  3. Ya, tapi tidak saat ini

 

Saat saya selalu bermimpi untuk sekolah, Ya. Tuhan mengijinkan saya mengenyam pendidikan TK, SD, maupun SMP.

 

Saat saya selalu bermimpi untuk sekolah di SMA Negeri biasa. Tidak. Tuhan tidak mengijinkan karena itu bukan yang terbaik untuk saya. Sebagai gantinya saya bersekolah di SMK Negeri dengan kualitas tinggi.

 

Saat saya selalu bermimpi untuk kuliah. Ya, tapi tidak langsung Tuhan memberikan jawabannya. Karena Dia memberikan kesempatan dulu pada saya untuk bekerja, Tuhan memberikan kesempatan dulu pada saya untuk berusaha, Tuhan memberikan kesempatan dulu pada saya untuk gagal, Tuhan memberikan kesempatan dulu pada saya untuk bangkit, Tuhan memberikan kesempatan dulu pada saya untuk belajar tidak putus asa, Tuhan memberikan kesempatan dulu pada saya untuk tetap bersyukur, dan akhirnya Tuhan pun memberi jawaban Ya. Dan tahukah kalian bahwa semua nya bahkan menjadi terasa lebih indah dan jauh lebih bermakna.

 

Well, tapi usaha saya belum selesai sampai disini. Banyak hal-hal yang harus saya usahakan di kampus rakyat ini. Sampai akhirnya nanti saya lulus sebagai sarjana dari Ilmu Keluarga dan Konsumen. Salah satu departemen terbaik yang ada di IPB, dimana rumpun ilmunya berfokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia, tentang keluarga yang menjadi basis dasar tumbuh kembangnya manusia, konsumen sebagai salah satu penyokong perekonomian, tentang anak yang menjadi mutiara bagi orang tuanya, tentang motivasi dan mimpi-mimpi calon anak bangsa lainnya seperti saya. Iya, 3 tahun lagi sampai tertera gelar kebanggaan dibelakang nama saya, gelar yang didapat dari nikmatnya usaha : Adinda Widanty, S.Si :)

First Posting

Posted by: ADINDA WIDANTY in Uncategorized No Comments »

Seed and Soil

Today, Oct 3rd 2011 is my first time to open the ipb’s blog of mine. Actually, i already have my own blog adindaw.blogspot.com you can also enjoy my story there. Thank you ^^